My Kid My Teacher #1
ANAKKU PANDAI MEMILIH TEMAN
Artikel ini adalah yang pertama dari serangkaian buah pikiran yang saya namai (saya sengaja menggunakan istilah 'nama' bukan 'judul', karena saya menganggap tulisan-tulisan saya seperti anak saya sendiri yang memiliki kehidupan untuk dibagikan kepada orang lain, hehe, bukan hanya sekedar benda mati...) "My Kid My Teacher" (MKMT).
Proses pembuahan MKMT dimulai setelah saya mengasuh anak saya sendiri, setelah sekian lama magang sesekali 'mengasuh' anak orang lain - maksudnya keponakan, remaja-remaja yang membutuhkan figur orang tua, dsb. Mengasuh anak sendiri ternyata sangat berbeda, karena paling tidak dua hal: yang pertama, saya memiliki kesempatan mengasuhnya dari awal dan yang kedua, saya bersama dengannya hampir setiap saat, apalagi ketika saya belum mulai bekerja. Karena kedua hal itu, saya disadarkan akan suatu fakta, yaitu sebenarnya saya belajar lebih banyak dari anak saya daripada ia belajar dari ibunya, maka pantaslah anak saya yang terkasih saya jadikan salah seorang guru saya.
Kedengarannya menggelikan, ya? Bagaimana saya seorang perempuan dewasa bisa kalah pintar dan kalah bijaksana daripada seorang bayi yang kemudian menjadi batita dan sekarang dalam proses menjadi balita, sehingga harus belajar darinya? Bahkan menyebutnya 'guru saya'? Hehe, kita akan bersama-sama mengetahuinya selangkah demi selangkah, seiring dengan bertumbuhbesarnya MKMT. Saya berharap Anda sabar mengikuti tumbuh kembangnya dan sementara itu hidup Anda diperkaya olehnya sehingga pada suatu titik Anda memutuskan untuk juga belajar dari buah hati Anda sendiri.
Mari kita lihat yang pertama dari MKMT.
Waktu masih berusia kurang dari setahun, anakku mudah dekat dengan siapa saja. Entah dipegang saja, diajak tertawa, digendong, atau bahkan dicium. Oleh orang tua dan kakeknya, pengasuh yang baru, orang yang jarang atau baru pertama kali dilihatnya... Pokoknya ia mudah akrab dengan siapa saja!
Tapi, ia mulai memilih-milih ketika umurnya sekitar setahun. Jika ia berhadapan dengan orang yang kurang dikenal, jangankan dicium, disentuh saja ia akan menghindar. Ketika ada yang tersenyum kepadanya ia akan diam saja dan kalau digendong ia pasti meronta-ronta dan menangis. Memang ada pengecualian tentang tersenyum - jika orang yang mengajaknya tersenyum itu mengenakan seragam, seperti SPG Department Store dan Security, maka dengan senang hati ia akan membalas senyuman mereka.
Sebaliknya, jika sudah mengenal seseorang, ia justru akan aktif menunjukkan perasaannya. Suatu hari, pada waktu aku sedang berkumpul dengan teman-temanku yang sudah cukup sering dijumpainya, tiba-tiba ia berkeliling ke setiap temanku - total dua kali keliling - satu kali untuk mengatakan bahwa ia baru saja 'ketatap' (menurut kamus anakku, artinya terbentur) dan kemudian berkeliling sekali lagi untuk mencium mereka. Sangat mengherankan!
Tingkah lakunya ini membuatku tersadar bahwa sang kesayanganku ini selektif. Ia tidak membiarkan sembarang orang memasuki kehidupannya (sayangnya, ia masih membiarkan sembarang benda memasuki mulutnya, hehe). Hanya orang-orang yang dikenalnya dengan baik atau yang disukainya yang diizinkannya memasuki kehidupannya. Ia tidak ingin diganggu atau disakiti oleh orang-orang yang menurutnya belum pasti aman baginya. Kalau sudah mulai mengenal pun, ia yang akan melakukan percobaan dengan mendekati orang tersebut: ia yang menyentuh, mencium, atau memeluk, tapi masih belum mau didekati. Sampai sekian lama, biasanya jika sering bertemu selama beberapa hari berturut-turut dan akhirnya ia merasa benar-benar aman, barulah ia mau didekati: dipeluk, dicium, bahkan digendong.
Acapkali saya sendiri tidak seselektif itu dalam memilih 'teman' - demikian juga banyak orang dewasa lainnya. Seberapa sering kita membiarkan 'teman' yang tidak baik memasuki dan mempengaruhi kehidupan kita dengan kuat, bisa berupa kata-kata orang lain yang merendahkan kita, rasa iri terhadap orang lain, tontonan dan bacaan media yang tidak berguna bagi akal sehat, gosip dan fitnah mengenal orang lain, menganggap diri sendiri sudah cukup pandai dan bijak sehingga alergi atau bahkan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, pikiran bahwa kita harus sempurna dalam segala hal sehingga hidup dengan tertekan dan menekan orang lain, dan masih banyak lagi... Saya dan Anda dapat melanjutkan daftar 'teman buruk ' yang tidak ada habisnya ini setelah saya selesai menulis dan Anda selesai membaca tulisan ini, hehe.
Jadi, inilah saatnya. Saya akan menjauhi pergaulan dengan 'teman-teman buruk' saya - yang sebenarnya bahkan tidak layak dijadikan teman - mulai dari sekarang dan untuk seterusnya. Bagaimana dengan Anda?